Wednesday, February 04, 2009

Lembur, Perlukah?

Ga tau kenapa "gatel" banget pengin membahas soal lembur. Beberapa hari yang lalu, saya dan seorang kawan pernah "mendamprat" (kok sepertinya terlalu kasar ya....?Mungkin karena pake emosi kali ya...) beberapa teman didepan forum soal lembur. Yah sebenarnya memang tidak ada sangkut pautnya dengan kami namun, kami jengah saja melihatnya.

Berawal dari kekagetan kawan saya saat melihat form lembur temannya, sebutlah si X. Kawan saya terkejut karena pekerjaan yang menjadikan si X lembur berasal dari dia, dalam arti dialah yang mengeluarkan work order. Bila sesuai dengan kenyataan sih tidak masalah, namun kenyataan membuat sesak dada. Ah sudahlah, ini urusan orang.

Ngomong-ngomong soal lembur, saya termasuk orang yang tidak suka lembur. Saya lebih senang menghabiskan libur dirumah, membaca buku atau nonton DVD. Lagipula kalo pekerjaan bisa diselesaikan dijam dan hari kerja mengapa pula harus lembur?

Bukan berarti lembur itu salah, karena pada kenyataannya masih banyak orang yang membutuhkannya buat menambah uang belanja dikarenakan gaji yang pas-pasan. Yang salah adalah penyalahgunaan dari lembur ini. Lembur hanya untuk sekedar browsing, update blog, atau mengada-adakan pekerjaan. Orang yang suka lembur dapat diartikan :
1. Overload, benar-benar banyak beban kerja yang harus diselesaikan.
2. Pemalas, tidak memanfaatkan jam kerja dengan efisien.
3. Gila kerja
4. Terserah menurut persepsi anda....

Menurut KepMen No. 102/MEN/VI/2004 Lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 (tujuh) jam sehari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 8 (delapan) jam sehari, dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) harikerja dalam 1 (satu) minggu atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan atau pada hari libur resmi yang ditetapkan Pemerintah. Biasanya sih digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai atau karena dikejar deadline. Beberapa orang berpandangan bahwa orang yang suka lembur itu berarti rajin, adapula yang berpandangan bahwa lembur itu berarti kualiatas/kinerja kita turun bahkan saya pernah mendengar pendapat orang bila lembur itu dapat matikan/membunuh karakter rekan kerja (kira-kira kenapa yah???). Benarkah itu ? Entahlah, semuanya kembali pada niat dan tujuan awal kita untuk lembur.

Sudah "luruskah" niat dan tujuan lembur Anda?

3 comments:

hesna said...

mmm...
frontal..tapi bakal percuma kalo yang baca bukan yang bersangkutan buu...

Nyi said...

Hahahhaaa... mustinya tulisan ini kamu publis ke Mr. X biar mereka bisa menghayati hahahhaaa...

Hsya said...

@hesna: Maksudnya bukan nyindir, asli bener......pan dah puas tuh uneg-uneg dikeluarin secara lisan.
@Nyi: Ini sebenernya ngingetin buat aku sendiri lhoo...sama buat bojoku, biar ngasih makan yg halah buat istrinya hehehe