Monday, February 16, 2009

FTM (Full Time Mother aka Ibu Rumah Tangga) vs Ibu Bekerja

Belakangan ini saya merasa malas sekali berangkat kekantor, bosan, ga betah, dan benci dengan suasana kantor. Mungkin didukung oleh sindrom pasca menikah, tapi ternyata suasana di kantor memang mendukung untuk malas juga. Iseng menyapa teman lewat window YM dan ternyata beberapa teman juga merasakan hal yang sama, meski tidak sekantor.

Yah keinginan saya untuk tidak bekerja setelah menikah terutama bila sudah ada momongan sangat kuat akhir-akhir ini. Permintaan dari Pendi dari semenjak belum menikah, dia menginginkan saya menjadi ibu rumah tangga namun bila hendak tetap bekerja syarat utama adalah keluarga harus no. 1. Dan saya pribadi? Jauh dilubuk hati saya juga menginginkan bisa "memegang" anak saya sendiri, melihat dia tumbuh dan berkembang secara langsung, mengurusi pendidikan dia dsb. Saya tak ingin dia besar bersama orang lain, tak ingin dia mengalami hal yang sama dengan ibunya. Tapi entahlah nanti, bisa jadi pemikiran saya untuk menjadi FTM berubah.

FTM vs Ibu Bekerja, membicarakan hal ini takkan pernah ada habisnya. Sudah banyak dibahas diberbagai forum dan hanya menjadi debat kusir. Dan saya tidak akan ikut menambah ramai forum tersebut karena bagi saya, kedua profesi tersebut sama hebatnya. Hanya saja terkadang memang image ibu rumah tangga murni menjadi buruk karena lekat dengan rumpi/gosip, sinetron, dan kumal saking sibuknya bebenah hingga lupa mengurus diri sendiri.

Andai saya nantinya memutuskan menjadi FTM, Insya Allah akan tetap tampil sebaik mungkin untuk suami meski dirumah, memanfaatkan waktu luang dengan belajar menjahit/memasak/kursus lain yang bermanfaat tanpa melupakan sosialisasi dengan teman. Jadi meski FTM tidak berarti saya menjadi kuper seperti yang ditakutkan beberapa teman saya.

Dan seandainya saya tetap bekerja, saya tetap akan menjadi seorang ibu yang seideal mungkin bagi suami dan anak. Sukses dalam karir dan rumah tangga, meski kedua hal tersebut berseberangan. Dengan berkeluarga bukan berarti kinerja dan produktivitas kita menurun, justru seharusnya lebih baik karena keluarga adalah motivator, penyemangat. Bisa seperti ilustrasi gambar tersebut, hehehe semoga...

Note : Gambar diambil dari http://retnodamayanthi.wordpress.com

3 comments:

susi said...

hi lusi, selamat ya atas pernikahannya.mumpung kamu masih muda,belum ada momongan pula, nikmati berdua aja dulu...jangan pusing mikirin soal FTM dulu. nanti kalo udah mau dikasih momongan baru deh boleh pusing lagi :)
pada saatnya tiba nanti,yang penting kamu harus tahu/memilih point-point yg paling penting,misalnya : golden age anak itu hanya sampai usia 3 tahun kan,tinggal pilih, kamu mau mengisi usia emas itu dengan sentuhan dan perhatian sang bunda sepenuhnya atau kamu cukup perlu laporan dari pengasuhnya saja tentang kata-kata pertamanya, langkah kaki pertamanya atau bahkan tangisannya ketika dia lapar atau terjatuh.point-point penting lainnya nanti kamu akan tahu sendiri deh.btw,kembali ke soal FTM,sekarang ada lagi istilah WAHM atau Working At Home Moms,apa itu ? cari sendiri deh artinya di google ya, yang jelas seorang FTM bisa juga berkarir dari rumah dan bisa lebih sukses dalam karir atau pergaulan daripada seorang karyawati,banyak kok contohnya.
btw,takut postingan kamu kalah panjang sama commet aku, aku cuma mau kasih tau kalau akhirnya ketrampilan/kursus menjahitku ada gunanya juga nih....visit my blogstore ya.... insyaallah kalau lagi ngk sibuk orderan atau digangguin anak-anak aku mau bikin postingan soal being WAHM....salam -susi-

sanggita said...

Halo, Lusi. Wah, baru berpredikat jadi istri ya. Selamat untuk pernikahannya. Hmm, dilema seperti itu pasti terjadi kok, say. Saya pernah tulis juga kegelisahan saya di sini : http://sanggita.wordpress.com/2009/04/03/haruskah-kembali-ke-rumah/

Meskipun memiliki kegelisahan yang sama, saya memilih untuk tetap bekerja, sedangkan sahabat saya memilih untuk menjadi FTM. Hanya dia berencana memiliki bisnis sendiri dan akan kuliah S2 September nanti.

Saya sendiri pernah menjadi FTM selama 2 tahun untuk membesarkan anak pertama, sambil menyelesaikan kuliah. Untuk anak kedua, malah saya tinggalkan bekerja. (lihat deh kategori Marriage dan Mom&Kiddie di blog saya)

Yah, masing-masing ibu memiliki kebutuhan dan pertimbangan sendiri ya. Seperti kata sahabat saya, apapun pilihannya, lakukan dengan sepenuh hati.

Saya sendiri, cinta keluarga dan cinta pekerjaan. Keluarga dan pekerjaan menyeimbangkan kehidupan saya.

mrpall said...

elamat ya atas pernikahannya.....